Kanker darah, identifikasi dini guna kesehatan pasien dan keluarga

by | Feb 22, 2019 | Chronic Illness, Healthy Lifestyle, Professional

Kanker darah sebagian besar dimulai dari sumsum tulang, di mana tempat darah diproduksi. Sel-sel kanker akan mencegah sel-sel darah normal untuk menjalankan fungsinya dengan baik.

Leukimia, limfoma dan myeloma adalah penyakit kanker darah yang mempengaruhi produksi dan fungsi sel darah dalam melawan infeksi dari sistem kekebalan tubuh. 

Seperti yang baru-baru ini di beritakan Mantan Ibu Negara Indonesia, Ani Yudhoyono, diberitakan mengidap kanker darah dan harus menjalani pengobatan intensif di National University Hospital Singapura sejak 2 Februari 2019.

Kanker darah sendiri salah satu jenis kanker yang bisa dialami oleh pasien pada usia berapa pun. salah satu cara mencegah penyakit ini bisa dengan menghindari faktor risiko penyebab kanker darah sendiri. di kutip dari hellosehat beberapa faktor risiko penyebab kanker darah:

Faktor-faktor risiko

Faktor risiko kanker darah leukemia meliputi:

  • Adanya penyakit keturunan gangguan pada imun tubuh.
  • Memiliki seorang saudara kandung atau kembaran dengan leukemia.
  • Riwayat paparan radiasi, kemoterapi, benzena dengan takaran yang tinggi.
  • Riwayat medis pada sistem imun seperti transplantasi organ.

Faktor risiko kanker darah limfoma meliputi:

  • Berusia 60-an atau lebih
  • Berjenis kelamin laki-laki
  • Sistem kekebalan tubuh lemah karena HIV/AIDS, transplantasi organ, atau karena Anda dilahirkan dengan gangguan sistem imun
  • Memiliki penyakit sistem kekebalan tubuh seperti rheumatoid arthritis (rematik), sindrom Sjögren, lupus, atau penyakit Celiac
  • Pernah terinfeksi dengan virus seperti Epstein-Barr, hepatitis C, human-cell T leukemia/limfoma (HTLV-1), atau virus herpes manusia (HHV8)
  • Anda memiliki riwayat keluarga seperti orangtua, saudara kandung, atau kakek dan nenek yang mengidap limfoma
  • Anda terkena benzena atau bahan kimia yang membunuh serangga dan gulma
  • Memiliki riwayat penyakit limfoma Hodgkin atau limfoma non-Hodgkin di masa lalu
  • Anda sedang menjalani pengobatan kemoterapi karena kanker tertentu
  • Kelebihan berat badan atau obesitas

Faktor risiko kanker darah myeloma meliputi:

  • Risiko terkena kanker jenis ini meningkat seiring bertambahnya usia. Kebanyakan orang yang terdiagnosis dengan kanker ini berusia setidaknya 65 tahun
  • Pria memiliki peluang lebih tinggi terkena penyakit myeloma daripada wanita
  • Memiliki riwayat penyakit autoimun, seperti diabetes, lupus, rheumatik arthritis, psoriasis, dan lain sebagainya
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena pengobatan kemoterapi atau terkena HIV/AIDS
  • Terpapar radiasi tingkat tinggi (bom atom) atau tingkat rendah dalam waktu lama (karena pekerjaan khusus).
  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini
  • Sebuah penelitian oleh American Cancer Society telah menemukan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko berkembangnya myeloma
  • Mengalami penyakit sel plasma atau kanker lainnya

Ketika orang yang dicintai di diagnosis menderita kanker, itu bisa membuat stress dan menantang bagi seluruh keluarga. anggota keluarga tidak hanya harus berurusan dengan semua kemungkinan yang terkait dengan diagnosis, tetapi dalam banyak kasus mereka juga harus bertindak sebagai pengasuh.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam journal Cancer, para peneliti memeriksa kesehatan fisik pengasuh dua hingga delapan tahun setelah diagnosis anggota keluarga mereka. Usia rata-rata pengasuh yang termasuk dalam penelitian ini adalah sekitar 53 tahun.

Menggunakan data yang dilaporkan sendiri dan survei American Cancer Society 12-item yang menilai kesehatan fisik, para peneliti meninjau informasi tentang usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, status pekerjaan dan hubungannya dengan pasien, keparahan diagnosis pasien, dan faktor-faktornya. seperti stres dan penghargaan pengasuhan, dukungan sosial dan gejala depresi. Mereka kemudian menilai perubahan indikator-indikator ini dari waktu ke waktu.

Para peneliti menemukan pengasuh memiliki kesehatan yang sedikit lebih baik daripada rata-rata nasional dua tahun setelah diagnosis orang yang mereka cintai. Namun, delapan tahun setelah diagnosis, mereka mengalami sedikit penurunan kesehatan fisik. Mereka yang sudah berurusan dengan depresi sebelum diagnosis anggota keluarga mereka mengalami penurunan kesehatan yang lebih buruk di kemudian hari.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kita perlu memberikan lebih banyak dukungan dan layanan kepada pengasuh dan untuk mengidentifikasi sejak dini mereka yang mungkin berisiko depresi sehingga mereka bisa mendapatkan perawatan yang tepat waktu.

Siapa pun yang pernah merawat orang yang dicintai penderita kanker memahami bahwa fokusnya sering pada mengembalikan anggota keluarga mereka ke kesehatan yang baik. Itu adalah prioritas utama, tetapi dalam proses itu penting bagi pengasuh untuk tidak mengabaikan kesehatan mereka sendiri. Selama masa kritis ini, orang yang dicintai yang telah di diagnosis menderita kanker membutuhkan semua dukungan yang bisa dia dapatkan, jadi sama pentingnya bagi pengasuh memprioritaskan kesehatan mereka untuk jalan yang sering sulit di depan.

Untuk banyak keluarga, kanker memiliki dampak emosional dan mental yang ditimbulkannya pada pasien dan perawat. Tindakan pencegahan menjadi sangat penting, memonitor tanda-tanda vital seperti tekanan darah, gula darah sampai berat badan melalui +hubsehat dapat bermanfaat bagi lebih banyak pasien dan anggota keluarga yang mengasuh.

 

+hubsehat sebuah aplikasi kesehatan yang bisa memonitor tanda-tanda vital pasien sampai riwayat medis dan obat-obatan yang pernah di lakukan sangat membantu pasien dalam melihat perkembangan kesehatannya dan bagi anggota keluarga yang mengasuh bisa meminimum resiko penurunan kesehatan fisik dengan selalu memonitor dan mengidentifikasi sejak dini tanda-tanda vital mereka.

+hubsehat ada di beberapa platform populer seperti Android, IOS dan WEB base. Menjadi lebih waspada tentang hal ini dapat bermanfaat bagi kesehatan pasien dan keluarga.

 

Share This